Sebenarnya bisa dikatakan trip ke baduy ini adalah trip janji, janji
sama diri sendiri untuk tembus 3 desa baduy dalam
(Cibeo-Cikertawarna-Cikeusik) juga janji sama teman-teman jalan yang
sudah kepending lama. Selama setahun menunggu saat yang tepat dan masa
kawalu berlalu, akhirnya pertengahan april ini dipikirkan mask-masak,
dengan mencari informasi banyak-banyak mengenai jalur belakang baduy
yang bisa tembus langsung desa Cikeusik sampai fenomena jembatan akar
yang bikin penasaran.
Masalah kendaraanpun jadi kendala karena jaraknya yang lumayan jauh
menuju Desa Nanggerang (perbatasan jalur belakang) karena kendaraan
sulit menuju kesana, untungnya didetik terakhir dapat informasi dari
kawan ada elf dari rangkas bitung yang bisa disewa kesana, jadi ga
perlu repot cari2 kendaraan lagi diterminal langsung jemput di Stasiun
Rangkas
Sabtu, 17 April 2010
Simpang siur perubahan jadwal kereta kerangkas, biking stress juga,
coba telpon hotline PT KAI 121 memastikan kereta ekonomi yang paling
pagi hanya jam 6 dari St Tanah Abang. Informasikan keteman2 yang bakalan
sibuk cari kendaraan pagi-pagi buta menuju kesana, termasuk gw yang
dari jam 4 pagi udah kabur dari rumah untungny semua kendaraan umum
sudah beroperasi mengantar orang-orang yang hendak kepasar meski harus
beberapakali ganti kendaraan.
Tiba juga di St tanah abang jam ½ 6 pagi, sudah banyak orang hilir
mudik disini, langsung kebagian tiket memastikan jadwal, begitu liat
jadwal langsung lemas, kereta kerangkas baru ada jam 8 pagi startnyapun
dari St Kota jam 7, berarti operator 121 ga bisa dipercaya.
Dan tak lama 15 orng temanpun datang dengan tampang2 belum mandi. Tidak
enak juga kasih taunya karena salah informasi, untungnya pada ngerti.
Daripada menunggu 2 jam diSt tanah abang kitapun sepakat menuju St Kota
saja sembari cari sarapan disana, tiket kereta ke St Rangkaspun sudah
dibeli dan dipakai untuk masuk peron. Ada satu teman Ian yang ternyata
sudah menunggu diSt Kebayoran yang juga sudah menunggu disana terpaksa
gw suruh nunggu aja disana.
Singkatnya kita naik kereta balik (kereta rangkas jaya yang akan ke St
Kota dulu), saat kereta tiba di St tanah abang kitapun bergegas naik
mencari posisi duduk karena kereta ini juga yang nantinya mengantar ke
Rangkas. Dalam perjalanan ke St Kota dapat SMS dari Ian yang ternyata ke
St Tanah Abang dan mencari lokasi keberadaan kita. Rupanya dia naik
kereta yang sama dari St Kebayoran, dia turun kita naik alhasi tidak
bertemu, akhirnya dia nyusul juga ke St Kota.
17 orang dalam perjalanan 4 jam menuju St Rangkas Bitung, begitu tiba
disambut Mang Sapri guide yang akan memandu kita selama perjalanan
nanti, elf yang kita sewapun sudah menanti. Langsung saja perjalanan
dimulai namun sebelumnya kita sempat berhenti dulu diwarung makan untuk
santap siang dulu sebelum tracking panjang.
Perut kenyang perjalanan lanjut, awalnya jalannya mulus, namun
berlahan-lahan mulai banyak kubangan hingga memasuki desa nanggerang
jalurnya rusak parah terlebih saat turunan terjal.

Tiba dipintu masuknya jam 2 Siang, istirahat sebentar trekking dimulai
dengan rute mengunjungi desa cikeusik dulu, panasnya terik matahari
cukup menguras tenaga. Disuatu warung kita berhenti untuk membeli ikan
asin, menurut Mang Sarpin ikan asin ini untuk tanda mata ketua adapt
cikeusik yang rumahnya akan dukunjungi. Setealah melewati jembatan
bambu, kita sudah memasuki daerah perkampungan baduy, darisini terbagi
arah, satu kearah desa Cikeusik satu lagi kearah desa Cikertawarna,
jadinya kita akan berjalan balik kembali ketitik ini. Menuju Desa
cikesuik melewati bukit tandus, untungnya stamina masih terjaga meski
panas matahari sore menyengat. Tidak sampai 1 jam setelah kita
menyebrangi sungai yang cukup lebar kita sudah memasuki desa Cikeusik.
Suasana sepi menyambut, menurut mang Sarphin, hampir semua penduduknya
sedang berada diladang dan terkadang mereka menginap disana. Jarak
antara rumah2 panggung yang rapat dan bentuk bangunan yang sama tentunya
akan menyesatkan langkah kalau tidak perhatikan jalan. Mengikuti Mang
sarphin dari belakang kita singgah disalah satu rumah yang kebetulan
saat itu ada penghuninya, ternyata merupakan ayah angkat dari Mang
sarphin. Ikut masuk dalam rumah khas baduy yang sederhana ditwarkan
panganan cemilan gula merah dan air putih. Ayah angkat Mang sarphin
(lupa namanya) merupakan Kokolot didesa Cikeusik ini merupakan satu
tingkatan dibawah Pu’un ketua adat setempat.
Desa Cikeusikmerupakan desa dengan kasta tertinggi, makanya jarang
dikunjungi tamu dan masih kurang menerima keberadaan tamu dan
memberikan informasi2 yang ditanyakan, berbeda dengan desa Cibeo yang
sering kedatangan tamu. Tidak lama disini kita berpamitan sembari
membeli madu hutan asli baduy, sempat pula mang Sarphin menunjukan
lokasi alun-alun, lokasi tinggal Pu’un dan batas yang boleh dilalui
orang luar.Kita berjalan kembali menuju jalur yang sama menemukan
kembali jembatan perbatasan tadi, istirahat sebentar lalu lanjut jalan
lagi menuju desa Cikertawarna.
Melalui salah satu desa baduy luar masih terus jalan hingga 2 jam
perjalanan menjelang magrib kita sudah tiba di desa Cikertawarna. Sama
seperti dicikeusik suasana sepi yang didapat hanya satu dua orang yang
nampak, yang membedakn dengan desa badui dalam lainnya posisi desa ini
jauh dari sungai dan berada dibukit ternyata menurut mang Sarphin, desa
ini baru pindah sekitar 1 tahun karena terbakar. Perjalanan naik turun
bukit tadi membuat teman2 bermasalah dengan kaki, meski begitu tidak
menghambat lajur perjalanan
Dalam perjalanan menuju desa terakhir Cibeo, kita berpapasan dengan satu
keluarga penduduk yang baru saja kembali dari ladang yang tenyata
Pu’un desa Cikertawarna, menurut mang sarphin itu suatu kebetulan.
Hanya butuh 15 menit saja kita sudah berada didesa Cibeo. Berbeda lagi
dengan 2 desa sebelumnya, suasana ramai menyambut, rupanya desa ini
sedang banjir tamu yang berkunjung menginap, dari lembaga LSM sampai
gerombolan pelajar yang sedang study banding. Mang sarphin sempat
bingung cari rumah kosong untuk kita menginap, namun warga cibeo dengan
ramah membantu mencari rumah yang bisa kita tiduri malam ini semua.
Usut punya usut kita seperti tamu tak diundang, karna penghuni rumahnya
ternyata tidak ada sedang berada diladang, jadi dibantu tetangga2
sekitar menyambut, dan baiknya lagi mereka bantu kita menyediakan santap
malam dari bekal bahan mentah yang kita bawa. Sembari menunggu masakan
kita mandi disungai digelapnya malam dingin2, tanpa menggunakan bahan
kimia asal basah dan menghilangkan keringat.
Selesai mandi, santap malam sesudahnya langsung pada tepar karena
kecapaian, yang masih kuat begadang keluar rumah menuju alun2, disana
masih ada segelintir pelajar yang sedang duduk-duduk diatas terpal
lebar sembari melihat angkasa. Subhanallah langit malam itu benar2
indah. Jutaan bintang menghiasi langit yang terlihat sangat jelas
sekali, berebda dengan dijakarta yang tentunya tertutup polusi. Bermain
dengan mencari posisi rasi bintang, hingga sedang asyik2nya
berbincang-bincang kita diusir oleh pemilik terpal yang ternyata warga
luar yang berdagang disini karena sedang banyak tamu. Mang sarphin jadi
ikut2an kesal, padahal dia warga asli baduy tapi diusir didaerahnya
sendiri.
Minggu, 18 April 2010
Menyambut pagi dengan sarapan diikuti cengan cengkrama edngan penduduk
setempat dan melihat aktifitas pelajar2 yang lalu lalang yang jumlahnya
cukup banyak. Pagi itu Ibu yang punya rumah baru saja balik dari
ladang, jadinya kita enakan pamitnya sembari memberi uang seiklasnya.
Salah satu teman Sasa memakai jasa guide yang merupakan anak dari
pemilk rumah namanya nursid yang masih berumur 12 tahun.
Pagi itu kita lanjutkan perjalanan menuju Ciboleger, sempat 2 opsi
jalur yang diajukan mang sarphi melalui hutan lindung atau desa
ciboleger, mayoritas memilih lewat jalur hutan karena jaraknya lebih
dekat dan tidak terlalu banyak bukit. Menghindari teman yang kakinya
bermasalah.
Start jam 8 pagi perjalanan dimulai, jadi ingat pada waktu sebelumnya
jalur ini adalah jalur gw lalui waktu datang, sekarang berbalik jadi
jalur pulang, gilanya baru sadar kita harus mendaki cukup tinggi menuju
hutannya dan ini cukup menguras tenaga. Jalur yang dilalui untungnya
hutan pastinya hawanya sejuk. Setelah 2 jam berada dihutan kita bertmu
dengan salah satu desa baduy luar, disini teman2 yang sudah boleh
mengabadikan dengan kamera mulai aktif, sembari menunggu teman2 yang
sibuk foto kita istirahat dulu disini.

Dalam perjalanan selanjutnya hujanpun menyambut, jas hujan keluar dan
merepotkan perjalanan, padahal dari sini sudah mulai dekat dengan desa
ciboleger. Hujanpun berhenti dan panas menyambut lagi langakah kaki kita
teruskan melangkah, alhmdulillah kita sudah berada didesa ciboleger
disambut oelh pedagang ang menawarkan pernak pernik khas baduy, langsung
saja yang doyan belanja. Tiba-tiba dikejutkan oleh 2 orang warha yang
mengotong sesuatu benda dibopong dengan bamboo yang diangkutkan sarung,
rupanya ada orng yg pinsan dan harus ditandu dikiranya salah teman
ternyata orang lain.
Istirahat panjang sambil santap makan siang dulu, sholat dan bebersih
disini sembari mencari souvenir2 yang tersisa. Lalu perjalanan
dilanjut, elf yang kita sewa sudah menanti untuk mengantar menuju
Jembatan Akar yang jaraknya cukup jauh dari Ciboleger. Jalanan yang
dilalui disamping cmn satu jalur juga rusak, disempat2kan tidur juga
untuk jaga stamina.
Tiba diparkiran jalan buntu barang2 ditinggal dielf berbekal kamera dan
air minum saja, dari sini kita tracking lagi sekitar 1 jam melewati
bukit lagi, dan begitu tiba didesa batara-desa baduy luar hujan
menyambut, berteduh dulu disini sambil santap es cincau yang lewat.
Untungnya hujannya tidak lama kita bisa lanjutka perjalanan, namun
dampaknya tanahnya jadi becek dan licin, harus extra hati-hati terlebih
begitu sampai menuju jembatannya, jalurnya turun dibawah jurang
menanti.
Tiba dijembatan akar juga dengan penuh senang dan bangga, menurut mang
sarphin awalnya jembatan ini hanya jembatan bambu biasa yang pondasinya
mengikat pada salah satu pohon besar, namun lama kelamaan akar dari
pohon tersebut mengikat bambu2 tersebut dan menjalar hingga ujung
jembatan. Sedang alasnya juga bambu2 biasa yang disusun sedemikian
rupa, namun extra hati-hati karena licin, sedang tinggi jembatan ini
lumayan sekitar 10 meter dari atas permukaan sungai.

Setelah puas mengabadikan jembatan yang menjadi biang penasaran gw ini,
kta kembali keparkiran yang disambut hujan rintik, namun tetap
dipaksakan jalan untuk mengejar waktu. Elfpun langsung melaju menuju
Rangkas, ditengah jalan mang Sarphin turun dan berpamitan.
Elfnya berjalan dengan lincah mempersingkat waktu hingga 1 ½ jam saja
kita sudah masuk kota Rangkas, kita minta diantar ke St dulu melihat
jadwl kereta terakhir yang ada, ternyata kereta terakhir keJakarta jam 4
sore telat 1 jam saat kita tiba, berbeda dengan tahun kemarin kereta
terkahir jam 6 sore. Tak ada pilihan kita diantar keterminal, dari sini
sudah ada bus menuju Jakarta, namun sebelumnya isi perut dulu. Dan
sekitar jam 6 buspun berangkat, yang ternyata merupakan bus terakhir
hari itu. Buspun baru tiba dijakarta sekitar jam 8 malam.
Selama perjalanan banyak mengucapkan terimakasih:
- Mang Sarphin untuk jasa guidenya
- Nursid dan keluarga warga baduy luar untuk penginapannya
- Rena untuk informasi elf dan guidenya
- Rekan2 perjalanan
Perkiraan Waktu
Sabtu, 17 April 2010
07:30-10:00 = Perjalanan kereta Rangkas Jaya menuju Rangkas Bitung
10:30-12:00 = Menuju Desa Nanggerang (Break makan siang)
12:30-14:00 = Lanjut perjalanan Desa Nnanggerang
14:30-15:00 = Menuju Desa Cikeusik
15:00-15:30 = Didesa Cikeusik
15:30-18:00 = Menuju desa Cikertawarna
18:00-18:30 = Didesa Cikertawarna
18:30-18:45 = Menuju desa Cibeo (menginap)
Minggu, 18 April 2010
07:30-12:00 = Menuju desa Ciboleger lewat jalur hutan Lindung
12:30-13:30 = Menuju parkiran batas akhir menuju jembatan akar
13:30-14:30 = Tracking menuju Jembatan Akar
14:30-15:00 = Dijembatan akar
15:00-15:30 = Tracking balik keparkiran
15:30-17:00 = Menuju Rangkas bitung
18:00-20:00 = Perjalanan menuju Jakarta dengan bus
Biaya-biaya
- Kereta Rangkas Jaya Rp 4.000,-
- Sewa Elf Rp 900.000/17 = Rp 52.000,-
- Guide 250.000/17 = Rp 15.000,-
- Tiket izin Rp 3.000,-
- Bus pulang Rp 15.000,-
- Total biaya Rp 90.000,- (exl makan)
untuk melihat foto lainnya klik di
sini
