Senin, 30 Januari 2012

Semalam di Baduy Dalam

Semalam di Baduy DalamTak sembarang orang bisa bertandang di tengah orang Baduy Dalam. Hidup di tengah harmonisasi alam dan kebijakan tentang nilai luhur yang terus dijaga, seakan menjalar dalam nadi. Sebuah jembatan bambu dengan bentuknya yang unik, menyambut kedatangan setiap tamu yang mengunjungi Baduy Dalam. Inilah perbatasan yang memisahkan antara Baduy Luar dan Baduy Dalam. Setelah melewati bagian ini, semua larangan yang diberlakukan di daerah ini harus ditaati setiap pendatang, termasuk saya tentunya.


Aturan adat tersebut antara lain tidak boleh berfoto di wilayah Baduy Dalam, tidak menggunakan barang-barang elektronik, tidak mengotori sungai dengan sabun atau odol, berkata dan berbuat tak senonoh, serta sederet pantangan lainnya.

Selain itu, wilayah yang dihuni oleh orang Kanekes ini juga terlarang bagi orang asing (non-WNI). Konon beberapa wartawan asing sampai sekarang belum berhasil masuk ke wilayah ini.

Kalaupun ada yang mengaku sampai Baduy, nyaris dipastikan sesungguhnya mereka berada di lingkungan Baduy Luar, yang lebih terbuka terhadap orang luar dan sudah "terkontaminasi" modernisasi.

Semalam di Baduy DalamNama Baduy ini diambil dari nama sungai yang melewati wilayah ini, sungai Cibaduy. Secara geografis terletak tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten.

Dengan ketinggian 300-600 m di atas permukaan laut (DPL), membuat wilayah ini memiliki topografi dengan berbukit dan bergelombang, dengan tanah vulkanik (di bagian utara), tanah endapan (di bagian tengah), dan tanah campuran (di bagian selatan).

Perjalanan yang saya tempuh dari Baduy Luar menuju Baduy Dalam sekitar tiga jam. Bila melalui Desa Nangrang, atau desa yang dianggap bagian belakang dari Desa Baduy Dalam (Cibeo, Cikertawarna, dan Cikeusik). Desa Nangrang ini merupakan kawasan terakhir bagi kendaraan roda empat dan dua, kemudian bisa dititipkan pada penduduk setempat.

Kali ini saya dan rombongan memang mencoba rute baru, untuk mengambil jalan pintas langsung menuju Baduy Dalam tanpa menginap di Baduy Luar. Dengan catatan, medan yang akan kami lalui lebih terjal dan menantang.

Jalur lainnya yang harus menginap melalui Ciboleger, menginap semalam di sana, sebelum masuk ke Baduy Dalam. Meskipun jarak tempuhnya bisa sekitar enam jam jalan kaki, yang tak sebanding dengan orang Baduy yang hanya perlu waktu satu jam saja.

Sebelum masuk wilayah ini, pengunjung harus melapor dulu kepada pemangku adat setempat yang disebut Jaro Pulung, seorang pimpinan adat yang tugasnya membina hubungan dengan kebudayaan luar. Setelah mengisi buku tamu dan mengutarakan maksud rombongan kami, perjalanan dimulai dari sebuah titik yang bertuliskan "Selamat Datang di Baduy".

Wilayah Baduy Dalam, di mana mereka tinggal ada di pedalaman hutan, masih terisolir, dan belum terusik dengan kebudayaan luar. Kebudayaan mereka masih asli, sehingga sulit bagi masyarakat lainnya untuk bisa masuk apalagi tinggal bersama suku Baduy Dalam.

Peraturan yang tetap dipegang teguh hingga kini diantaranya bagi warganya adalah tidak menggunakan kendaraan jenis apapun untuk sarana transportasi, tidak memakai alas kaki, tidak menggunakan alat elektronik (teknologi), hanya mengenakan pakaian berwarna hitam/ putih yang ditenun dan dijahit sendiri, dan semua hal yang berkaitan dengan "kembali ke alam". Karenanya selama ini tidak bisa sembarangan orang masuk ke wilayah suku Baduy Dalam.

Setelah melewati perbukitan yang cukup terjal, keluar masuk beberapa kampung Baduy Luar, sampailah kami di perkampungan Baduy Dalam yang pertama, Cikertawarna. Matahari sudah tak tampak, jalanan pun mulai terlihat samar-samar. Kampung yang konon dihuni tak lebih dari 50 kepala keluarga ini amat sepi, sama sekali tak terdengar suara kehidupan. Hanya ada seorang bapak tua yang menyapa kami dalam bahasa Indonesia campur Sunda dialek Banten. Setelah tahu tujuan kami untuk mengunjungi kampung Cibeo, ia langsung memandu kami hingga ke ujung kampung.

Semalam di Baduy DalamDua puluh menit kemudian kami telah sampai di Cibeo, tempat kami bermalam hari itu. Sekelompok anak-anak masih tampak berlarian di lorong-lorong antar rumah meski hari sudah mulai gelap. Kami disambut dengan penuh keakraban, salah seorang warga langsung menawarkan rumahnya sebagai tempat menginap. "Di tempat kami saja," ujar Syarif, lelaki berusia 25 tahun tersebut.

Ini bukan pertemuan pertama saya. Lima tahun lalu saya pernah juga menginap di rumahnya. Dan, tampaknya tak ada satu pun perubahan terjadi disini. Semua tetap sama, mulai dari perabotan hingga ruang-ruang dalam rumahnya. Yang berbeda, kini Syarif telah punya tiga anak, sulungnya pun telah meningkat remaja.

Setelah istirahat sejenak, kami telah disuguhi kopi dan teh hangat, berikut makan malam nasi dengan lauk mie instant campur kornet. Wah, meski hanya menu sederhana, namun beberapa teman setuju bahwa Baduy Dalam berhasil membuat "mie instant" jadi makanan terlezat di dunia - saat itu -. Begitu juga dengan kopinya yang terasa legit. Benar-benar menjadi makan malam penuh kesan.

Selepas makan kami duduk-duduk di teras sambil ngobrol dengan sang pemilik rumah. Hebatnya, kami tak dapat melihat wajah lawan bicara karena malam yang amat pekat. Justru disinilah uniknya, hanya mendengar suaranya tanpa bisa membayangkan ekspresi wajahnya. Tak lama kemudian datang teman-teman Syarif lainnya, jadilah malam itu kami mengobrol layaknya sebuah pertemuan keluarga yang penuh canda tawa.

Meski masyarakat Baduy Dalam tidak mengenal budaya baca-tulis, namun ternyata mereka dapat mengikuti perkembangan dunia luar. Bahkan kami pun dibuat terkaget-kaget dengan berbagai pertanyaan atau jawaban mereka yang menunjukkan bahwa mereka adalah orang-orang yang cerdas, dibalik kebersahajaannya.

Salah satu dari mereka dengan fasih menjelaskan asal-usul moyangnya dengan lengkap, bahkan mampu juga bicara tantangan yang harus mereka hadapi dalam era modernisasi.

Tak terasa malam terus merambat. Sayup-sayup terdengar suara alat musik tradisional yang dipetik dengan penuh perasaan. Lilin, satu-satunya yang menjadi alat penerang rumah Sarif pun makin kecil nyalanya.

Semalam di Baduy DalamSetelah rombongan warga setempat pulang, saatnya menikmati "malam" yang sesungguhnya. Udara super dingin di malam yang pekat serta suara lolongan anjing, benar-benar "pas" untuk mereka yang butuh intropeksi diri. Kesunyian yang membeku inilah yang membuat saya tak kuasa memejamkan mata.

Namun, tak terasa hari telah berganti. Suara celoteh anak-anak kecil membangunkan saya. Rumah mereka yang didirikan diatas batu (ini kepercayaan mereka bahwa rumah supaya kokoh harus berdiri di atas batu) serta berbilik bambu, membuat udara masuk dengan leluasa. Tak salah bila sebagian besar dari rombongan kami menggigil semalaman. Sementara anak-anak kecil di Baduy Dalam ini tidur tanpa selembar kain di badan.

Bermalam di tempat terpencil ini tak hanya dapat belajar banyak soal kearifan hidup, tetapi kembali menyadarkan bahwa alam benar-benar bisa menjadi sahabat manusia untuk kembali menjadi manusia yang "membumi". Setelah menikmati dinginnya air kali saat mandi, kami pun bergegas pulang kembali ke Jakarta. Tak lupa membawa air bambu hitam untuk obat batuk.

Ada begitu banyak kesan tertinggal di sana. Meski lelah meraja, dan kaki pegal tak ketulungan, rasanya sebanding dengan pengalaman ini. Belum lagi mobil yang kami tumpangi meluncur kembali ke Jakarta, seorang teman langsung nyeletuk," Kapan balik lagi ke Cibeo ya?" tanyanya.

Orang Kanekes

Masyarakat baduy dikenal dengan sebutan Orang Kanekes. Sehari-hari pemerintahan adatnya dilaksanakan oleh jaro, yang dibagi kedalam empat jabatan, yaitu Jaro Tangtu, Jaro Dangka, Jaro Tanggungan, dan Jaro Pamarentah.

Jaro tangtu bertanggung jawab pada pelaksanaan hukum adat pada warga tangtu dan berbagai macam urusan lainnya. Jaro dangka yang jumlahnya 9 orang bertugas menjaga, mengurus dan memelihara tanah titipan leluhur mereka. Jaro tanggungan adalah pemimpin bagi Jaro Dangka dan Jaro Tangtu (Jaro Duabelas).

Sementara Jaro Pamarentah bertugas sebagai penghubung antara masyarakat adat Kanekes dengan pemerintah nasional, yang dalam tugasnya dibantu oleh pangiwa, carik, dan kokolot lembur atau tetua kampung. Dan, pimpinan tertinggi bagi mereka disebut "Puun", sebuah jabatan yang diemban secara turun-temurun. Namun jabatan ini tak selalu turun dari bapak ke anak, bisa juga kerabat lainnya.

Mata pencaharian utama masyarakat Kanekes adalah bertani (huma). Selain itu mereka juga mendapatkan penghasilan tambahan dari menjual hasil hutan seperti buah durian, asam, dan madu. Saat tak ada pekerjaan di ladang, ada beberapa orang Baduy yang berkelana ke kota besar dalam rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang, berkunjung ke rumah kenalan yang pernah datang ke Baduy sambil menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Dalam kunjungan tersebut biasanya mereka mendapatkan tambahan uang untuk mencukupi kebutuhan hidup.

Semalam di Baduy DalamCenderamata

Dimasa lalu perdagangan di tempat ini dilakukan secara barter. Namun sekarang ini telah mempergunakan mata uang rupiah biasa. Orang Kanekes menjual hasil buah-buahan, madu, dan gula kawung/aren melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Keahlian lain yang dimiliki warga Baduy Dalam adalah membuat kerajinan tangan, berupa manik-manik, anyaman, serta menenun kain, seperti kerajinan tangan tas koja yang bahannya terbuat dari kulit kayu yang dianyam.

Dan, biasanya saat pekerjaan di ladang tidak terlalu banyak, mereka senang berkelana ke kota besar di sekitarnya menjual madu dan hasil kerajinan tangan. Jakarta termasuk tempat tujuan favorit mereka, meski harus berjalan kaki beberapa dengan rombongan kecil yang terdiri dari 3 sampai 5 orang.




Suku Baduy di Pedalaman Banten

Indotoplist.com : Orang Kanekes atau orang Baduy adalah suatu kelompok masyarakat adat Sunda di wilayah Kabupaten Lebak, Banten. Sebutan "Baduy" merupakan sebutan yang diberikan oleh penduduk luar kepada kelompok masyarakat tersebut, berawal dari sebutan para peneliti Belanda yang agaknya mempersamakan mereka dengan kelompok Arab Badawi yang merupakan masyarakat yang berpindah-pindah (nomaden). Kemungkinan lain adalah karena adanya Sungai Baduy dan Gunung Baduy yang ada di bagian utara dari wilayah tersebut. Mereka sendiri lebih suka menyebut diri sebagai urang Kanekes atau "orang Kanekes" sesuai dengan nama wilayah mereka, atau sebutan yang mengacu kepada nama kampung mereka seperti Urang Cibeo
Suku Baduy di Pedalaman Banten
Wilayah kanekes bermukim tepat di kaki pegunungan Kendeng di desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak-Rangkasbitung, Banten, berjarak sekitar 40 km dari kota Rangkasbitung. Tidak heran bahasa yang mereka gunakan adalah bahasa sunda dialek Sunda-Banten. Namun mereka juga lancar menggunakan Bahasa Indonesia ketika berdialog dengan penduduk luar.

Suku Baduy sendiri terbagi menjadi tiga kelompok yaitu tangtu, panamping, dan dangka (Permana, 2001). Kelompok tangtu adalah kelompok yang dikenal sebagai Baduy Dalam. Yaitu kelompok Baduy yang paling ketat mengikuti adat mereka. Terdapat tiga kampung pada kelompok Baduy dalam yaitu: Cibeo, Cikartawana, dan Cikeusik. Ciri khas orang Baduy Dalam adalah mereka mengenakan pakaian yang berwarna putih alami dan biru tua serta mengenakan ikat kepala putih. Kelompok yang kedua adalah Baduy Luar atau dikenal sebagai kelompok masyarakat panamping. Yang berciri mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna hitam. Dan tersebar mengelilingi wilayah Baduy Dalam seperti Cikadu, Kaduketuk, Kadukolot, Gajeboh, Cisagu, dan lain sebagainya. Lain halnya kelompok ketiga disebut dengan Baduy Dangka, mereka tinggal di luar wilayah Kanekes tidak seperti Baduy Dalam dan Luar. dan saat ini hanya 2 kampung yang tersisa yaitu Padawaras (Cibengkung) dan Sirahdayeuh (Cihandam).

Kepercayaan Suku Baduy atau masyarakat kanekes sendiri sering disebut dengan Sunda Wiwitan yang berdasarkan pada pemujaan nenek moyang (animisme), namun semakin berkembang dan dipengaruhi oleh agama lainnya seperti agama Islam, Budha dan Hindu. Namun inti dari kepercayaan itu sendiri ditunjukkan dengan ketentuan adat yang mutlak dengan adanya “pikukuh” ( kepatuhan) dengan konsep tidak ada perubahan sesedikit mungkin atau tanpa perubahan apapun.
Suku Baduy di Pedalaman Banten
Objek kepercayaan terpenting bagi masyarakat Kanekes adalah Arca Domas, yang lokasinya dirahasiakan dan dianggap paling sakral. masyarakatnya mengunjungi lokasi tersebut dan melakukan pemujaan setahun sekali pada bulan kalima. Hanya ketua adat tertinggi puun dan rombongannya yang terpilih saja yang dapat mengikuti rombongan tersebut. Di daerah arca tersebut terdapat batu lumping yang dipercaya apa bila saat pemujaan batu tersebut terlihat penuh maka pertanda hujan akan banyak turun dan panen akan berhasil, dan begitu juga sebaliknya, jika kering atau berair keruh pertanda akan terjadi kegagalan pada panen.

Mata pencaharian masyarakat Baduy adalah bertani dan menjual buah-buahan yang mereka dapatkan dari hutan. Selain itu Sebagai tanda kepatuhan/pengakuan kepada penguasa, masyarakat Kanekes secara rutin melaksanakan seba yang masih rutin diadakan setahun sekali dengan mengantarkan hasil bumi kepada penguasa setempat yaitu Gubernur Banten. Dari hal tersebut terciptanya interaksi yang erat antara masyarakat Baduy dan penduduk luar. Ketika pekerjaan mereka diladang tidak mencukupi, orang Baduy biasanya berkelana ke kota besar sekitar wilayah mereka dengan berjalan kaki, umumnya mereka berangkat dengan jumlah yang kecil antara 3 sampai 5 orang untuk mejual madu dan kerajinan tangan mereka untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Perdagangan yang semula hanya dilakukan dengan barter kini sudah menggunakan mata uang rupiah. Orang baduy menjual hasil pertaniannya dan buah-buahan melalui para tengkulak. Mereka juga membeli kebutuhan hidup yang tidak diproduksi sendiri di pasar. Pasar bagi orang Kanekes terletak di luar wilayah Kanekes seperti pasar Kroya, Cibengkung, dan Ciboleger.

Penulis: Erwan Rosmana (erwan.rosmana@tijecorp.com)
Sumber: www.swaberita.com
BADUY BUKAN SUKU TERASING
(http://disbudpar.wordpress.com)

Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy yang tinggal di Desa Kanekes Kecamatan Leuwidamar Kabupaten Lebak. Perkampungan masyarakat Baduy pada umumnya terletak pada daerah aliran sungai Ciujung di Pegunungan Kendeng – Banten Selatan. Letaknya sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta; sekitar 65 km sebelah selatan ibukota Provinsi Banten.

Masyarakat Baduy yang menempati areal 5.108 ha (desa terluas di Provinsi Banten) ini mengasingkan diri dari dunia luar dan dengan sengaja menolak (tidak terpengaruh) oleh masyarakat lainnya, dengan cara menjadikan daerahnya sebagai tempat suci (di Penembahan Arca Domas) dan keramat. Namun intensitas komunikasi mereka tidak terbatas, yang terjalin harmonis dengan masyarakat luar, melalui kunjungan.

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka mampu secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang (ngahuma), menjual hasil kerajinan tangan khas Baduy, seperti Koja dan Jarog (tas yang terbuat dari kulit kayu Teureup); tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung serta golok/parang, juga berburu.
Suku Baduy di Pedalaman BantenSuku Baduy di Pedalaman Banten
Masyarakat Baduy bagaikan sebuah negara yang tatanan hidupnya diatur oleh hukum adat yang sangat kuat. Semua kewenangan yang berlandaskan kebijaksanaan dan keadilan berada di tangan pimpinan tertinggi, yaitu Puun. Puun bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan hidup masyarakat yang dalam menjalankan tugasnya itu dibantu juga oleh beberapa tokoh adat lainnya. Sebagai tanda setia kepada Pemerintahan RI, setiap akhir tahun suku yang berjumlah 7.512 jiwa dan tersebar dalam 67 kampung ini mengadakan upacara Seba kepada “Bapak Gede” (Panggilan Kepada Bupati Lebak) dan Camat Leuwidamar.

Pemukiman masyarakat Baduy berada di daerah perbukitan. Tempat yang paling rendah berada pada ketinggian 800 meter di atas permukaan laut. Sehingga dapat dibayangkan bahwa rimba raya di sekitar pegunungan Kendeng merupakan kawasan yang kaya akan sumber mata air yang masih bebas polusi. Lokasi yang dijadikan pemukiman pada umumnya berada di lereng gunung, celah bukit serta lembah yang ditumbuhi pohon-pohon besar, yang dekat dengan sumber mata air. Semak belukar yang hijau disekitarnya turut mewarnai keindahan serta kesejukan suasana yang tenang. Keheningan dan kedamaian kehidupan yang bersahaja.

Info Update Biaya Perjalanan ke Baduy

Temans sekedar update perjalanan ke Baduy yang baru kami jalani via bis tanggal 07 Maret 2009, total biaya yang dihabiskan sebesar Rp.148.000 / orang untuk 3 hari 2 malam sebagai berikut :
Berangkat
Bis 3/4 Terminal X Deres – Terminal R. Bitung (Mandala) Rp.17.000 – Lama perjalanan +/- 3 jam Angkot Terminal R. Bitung (Mandala) – Pasar (AW) Rp.3.000 – Lama perjalanan +/- 10 menit Bis 3/4 Pasar (AW) – Desa Ciboleger Rp.10.000 – Lama perjalanan +/- 3 jam Total biaya berangkat Rp.30.000
Desa Ciboleger
Menginap 2 malam di rumah yang disiapkan kang hari sebenarnya tidak dibebankan tarif, tapi karena kami juga makan dari sana maka kami berinisiatif untuk memberikan penggantinya untuk 4x makan + minum sebesar Rp.40.000 / orang
Begitu juga dengan guide, info terakhir untuk guide biasa dikasih Rp10.000 / orang, artinya seandainya yang ikut 5 orang guide akan mendapatkan RP.50.000. Berhubung kang Ubad udah nemenin kami selama 13 jam, bahkan dari jam 07.00 kang Ubad udah standby di rumah, kami sedikit memberikan lebih sebesar Rp.30.000 / orang
Sebelum masuk ke Baduy Luar kami diminta registrasi terlebih dahulu di jaro Kaduketug, dapat memberikan alakadarnya karena tidak ada aturan juga yang mengharuskan. Untuk 5 orang kami memberikan Rp.10.000, jika di bagi per orang maka sebesar Rp.2.000
Pulang
Bis Elf Ciboleger – Pasar (AW) Rp.12.000 – Lama perjalanan +/- 2 jam Pasar (AW) – Terminal R. Bitung (Mandala) Rp.3.000 – Lama perjalanan +/- 10 menit Bis 3/4 Terminal R. Bitung (Mandala) – Kali Deres Rp.17.000 – Lama perjalanan +/- 3 jam Total biaya pulang Rp. 32.000
Tambahan
Makan nasi + telur + sayur di warteg pasar R. Bitung (AW) Rp.6.000 Bakso bakar + es teh manis di Terminal R. Bitung Rp.8.000 Total biaya tambahan Rp.14.000
Info harga souvenir
Gelang akar & rotan kecil Rp.2.000 Gelang akar & rotan besar Rp.3.000 Kain selendang Rp.30.000 Tas koja Rp.20.000 Cangklong rokok Rp.2.000 Cincin Rp.1.000 Tas HP Rp.10.000 Gantungan kunci Rp.2.000 Lonceng Rp.2.000 Bedok (golok) ada ukiran khas Baduy Rp.100.000 Bedok (golok) biasa Rp.50.000 Kaos ukuran M Rp.17.000 Kaos ukuran L Rp.20.000 Pakaian adat Baduy (model baju koko itam or putih) Rp.50.000
Thanks

Melongok Kehidupan Suku Baduy - Banten

A.Heryanto
Provinsi Banten memiliki masyarakat tradisional yang masih memegang teguh adat tradisi yaitu Suku Baduy. Suku Baduy mendiami kawasan Pegunungan Keundeng, tepatnya di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Banten.
Masyarakat Baduy memiliki tanah adat kurang lebih sekitar 5.108 hektar yang terletak
di Pegunungan Keundeng. Mereka memiliki prinsip hidup cinta damai, tidak mau berkonflik dan taat pada tradisi lama serta hukum adat.

Kadang kala suku Baduy juga menyebut dirinya sebagai orang Kanekes, karena berada di Desa Kanekes. Mereka berada di wilayah Kecamatan Leuwidamar. Perkampungan mereka berada di sekitar aliran sungai Ciujung dan Cikanekes di Pegunungan Keundeng. Atau sekitar 172 km sebelah barat ibukota Jakarta dan 65 km sebelah selatan ibu kota Serang.

Masyarakat suku Baduy sendiri terbagi dalam dua kelompok. Kelompok terbesar disebut dengan Baduy Luar atau Urang Panamping yang tinggal disebelah utara Kanekes. Mereka berjumlah sekitar 7 ribuan yang menempati 28 kampung dan 8 anak kampung. Sementara di bagian selatannya dihuni masyarakat Baduy Dalam atau Urang Tangtu. Diperkirakan mereka berjumlah 800an orang yang tersebar di Kampung Cikeusik, Cibeo dan Cikartawana.

Kedua kelompok ini memang memiliki ciri yang beda. Bila Baduy Dalam menyebut Baduy Luar dengan sebutan Urang Kaluaran, sebaliknya Badui Luar menyebut Badui Dalam dengan panggilan Urang Girang atau Urang Kejeroan. Ciri lainnya, pakaian yang biasa dikenakan Baduy Dalam lebih didominasi berwarna putih-putih. Sedangkan, Baduy Luar lebih banyak mengenakan pakaian hitam dengan ikat kepala bercorak batik warna biru.

Dalam memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari, masyarakat yang memiliki konsep inti kesederhanaan ini belum pernah mengharapkan bantuan dari luar. Mereka secara mandiri dengan cara bercocok tanam dan berladang. Selain itu mereka menjual hasil kerajinan seperti Koja dan Jarog(tas yang terbuat dari kulit kayu), tenunan berupa selendang, baju, celana, ikat kepala, sarung, golok, parang dan berburu.
Masyarakat Baduy sangat taat pada pimpinan yang tertinggi yang disebut Puun. Puun ini bertugas sebagai pengendali hukum adat dan tatanan kehidupan masyarakat yang menganut ajaran Sunda Wiwitan peninggalan nenek moyangnya. Setiap kampung di Baduy Dalam dipimpin oleh seorang Puun, yang tidak boleh meninggalkan kampungnya. Pucuk pimpinan adat dipimpin oleh Puun Tri Tunggal, yaitu Puun Sadi di Kampung Cikeusik, Puun Janteu
di Kampung Cibeo dan Puun Kiteu di Cikartawana.

Sedangkan wakilnya pimpinan adat ini disebut Jaro Tangtu yang berfungsi sebagai juru bicara dengan pemerintahan desa, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. Di Baduy Luar sendiri mengenal sistem pemerintahan kepala desa yang disebut Jaro Pamerentah yang dibantu Jaro Tanggungan, Tanggungan dan Baris Kokolot.

Keberadaan masyarakat Baduy sendiri sering dikaitkan dengan Kerajaan Sunda (Pajajaran) di abad 15 dan 16. Saat itu, kerajaan Pajajaran yang berlokasi di Bogor memiliki pelabuhan dagang besar di Banten, termasuk alamnya perlu diamankan. Nah, tugas pengamanan ini dilakukan oleh pasukan khusus untuk mengelola kawasan berhutan lebat dan berbukit di wilayah Gunung Kendeng tersebut. Keberadaan pasukan ini yang diyakini sebagai cikal bakal suku Baduy.

Ada pula yang mempercayai awal kebedaraan suku Baduy, merupakan sisa-sisa pasukan Pajajaran yang setia pada Prabu Siliwangi. Mereka melarikan diri dari kejaran pasukan Sultan Banten dan Cirebon. Namun pada akhirnya, mereka dilindungi Kesultanan Banten dan diberi otonomi khusus.

Senin, 18 Juli 2011

Tentang baduy

• February 15, 2010
Mereka beda, mereka bersimphony dengan alam, mereka bebas, mereka damai, mereka kaya, mereka ramah, mereka putih, mereka merona, mereka kuat dan mereka arsitekhebat, bagaimana bisa?

Minggu, 17 Juli 2011

Budak baduy

• February 15, 2010

Mereka beda, mereka bersimphony dengan alam, mereka bebas, mereka damai, mereka kaya, mereka ramah, mereka putih, mereka merona, mereka kuat dan mereka arsitekhebat, bagaimana bisa?,